Hadiah Ulang Tahun
Saya anak dari luar kota yang bernama Sanu, yang ingin masuk kuliah negeri di bandung tapi tak tersampaikan, Akhirnya saya masuk di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Jurusan yang tidak sejalan dengan apa yang aku pelajari di dunia SMA membuatku tak berniat untuk menjalani kuliah yaitu Fakultas Hukum. Materi dan lingkungan kuliah pun terbayangkan. Terbayangkan yang tidak bersahabat denganku. Mungkin aku termasuk orang pintar disana tapi aku juga termasuk orang yang kurang beruntung.
Hari pertama kuliah dengan materi “Pengantar
Ilmu Hukum”. Aku yang tak mengerti dengan materi tersebut hanya bisa terdiam
dan mendengarkan disaat dosen menjelaskan. Setelah menjelaskan dosen pun
memberikan tugas untuk presentasi abtar bab. Aku pun mendapatkan bagian untuk
presentasi yang kedua di minggu depan.
Hari berganti hari, aku masih tak paham
dengan apa yang akan aku presentasikan minggu esok. Aku mengumpulkan niat dan
berusaha untuk mencari materi yang akan presentasikan esok hari. Esok hari pun
datang dan aku siap mempresentasikan apa yang aku tahu dengan materi tersebut.
Kelompok pertama pun presentasi dan saya mengagumi presentasi dan argumentasi teman-teman
kelasku yang pengetahuannya diatas rata-rata. Tidak sepertiku yang hanya
mengerti sedikit tentang apa yang mereka bahas. Hanya anggukan-anggukan kecil
yang selalu kulakukan untuk mengekspresikan bahwa aku mengerti. Serta hanya
kerutan kening yang selalu kutunjukkan saat aku tak mengerti. Suasana kelas
yang baru ini membuatku semakin terbungkam di awal masuk kuliah.
Untuk pertama kalinya aku presentasi di kelas, Aku memberanikan diri memaparkan
isi dari tugasku tersebut. Dan, Alhamdulillah aku puas dengan hasilku sendiri
setidaknya aku sudah maksimal untuk menjalankannya meskipun aku sedikit tidak
paham dengan materi yang diberikan.
Sejak pertama kali masuk, aku tak kenal siapapun. Aku
memberanikan diri lagi untuk berkenalan dengan teman sekelasku. Setidaknya hari
ini bertema keberanian diri untuk teman kelas. Akhirnya aku berteman dengan
salah seorang cewek yang berkerudung, bernama Wati. Hari demi hari aku pun
semakin dekat dengan Leni dan semakin dekat pula dengan teman sekelasku. Teman
pun bertambah, dari awal aku dengan Wati sekarang pun menjadi bersama Siska,
Lia, Wati dan aku.
Aku menerima sms dari ketua kelasku bahwa ada kuliah
pengganti di kampus. Aku pun merasa senang setidaknya ada salah satu teman yang
mengingatkan bahwa ada kuliah pengganti apabila kita tidak melihat dengan web.
Aku pun menerima sms dan menyebutkan ruang kelas untuk kelas pengganti. Tak
sadar aku pun langsung berlari sekencang kencangnya menuju kelas pengganti
tersebut. Tapi tiba-tiba, saat kubuka pintu kelas dan kutongolkan kepalaku ke
dalam, ternyata tak ada siapa-siapa disitu ternyata Aku dikibuli. Aku pun
merasa kecewa karena ketua kelasku memberitahukan kuliah pengganti tersebut
tetapi nyatanya tidak ada. Tapi di suatu sisi aku pun salah tak melihat info
tentang kuliah pengganti di web.
Aku berpikir, mungkin Adit (ketua kelasku) salah
menyebutkan nomor ruangan seperti biasa. Kubalas sms terakhirnya dan mengatakan
bahwa ruangan yang ia sebut tadi kosong. Dan ternyata dugaanku benar. Adit
salah menyebutkan nomor ruangan. Aku segera menuju ruangan yang disebutkan
Adit. Pintunya tertutup. Tapi aku yakin ini ruang yang benar. Meskipun
terdengar sepi sekali di dalam. Perlahan, kutarik pintu agar terbuka. Dan saat
itu, betapa terkejutnya aku ketika ada barang halus yang mengenai wajahku.
Mataku kelilipan tak bisa dibuka. Tapi aku mendengar orang-orang bersorak dan
menyanyikan lagu ulang tahun. Saat itulah aku sadar. Bahwa ternyata semua yang
terjadi padaku hanyalah sandiwara mereka. Akupun baru ingat bahwa hari ini
adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Aku bahagia sekali. Hingga tanpa sadar,
aku menangis haru. Setelah mataku pulih, aku menumpahkan segalanya dipelukan
teman-temanku. Tak bisa kutulis rasanya bagaimana bahagiaku saat itu. “Kenapa
menangis, San?”. “Kalian tahu, tadinya aku berpikir bahwa aku telah kehilangan
kalian semua”. “Jangan berpikir begitu. Kita semua senasib dan seperjuangan.
Tak mungkin kita meninggalkan salah satu teman kita. Kecuali dia sendiri yang
meninggalkan kita”
Aku semakin terharu. Kupeluk lagi mereka semua. Aku
benar-benar merasa dihargai oleh mereka. Aku merasa menjadi bagian dari mereka.
Dan aku merasa bahwa mereka adalah keluarga keduaku.
Disela air mataku yang tak henti mengalir, aku pun
sangat terharu pasti ini semua kerjaan Siska, Lia, Wati yang tak jauh dari
tempat dudukku. Aku segera mencuci mukaku ke kamar mandi. Saat aku sedang
mengeringkan mukaku, tiba-tiba Siska, Lia, Wati menghampiriku dengam membawa
kue tart yang besar dan bertuliskan “Selamat Ulang Tahun yang ke 18 beserta
lilin yang sangatlah lucu”. Aku pun tersenyum melihat mereka yang datang
memberikan suprise. Kebahagiaanku sempurna hari ini.
Sepulang
kuliah ada seseorang yang bernama Anton. Dia adalah orang yang diam diam
mengagumiku tapi aku tak tahu. Dia memanggilku secara perlahan dan mengajakku
ngobrol di kantin. Siska, Lia, dan Wati pun mengikutiku menuju kantin. Anton
pun mengajukan pertanyaan yang sangat mengagetkan sekaligus membingungkanku
“aku merasa aku suka denganmu, apabila aku dekat denganmu aku merasa nyaman.
Maukah kau jadi pacarku?” Siska, Lia dan Wati pun teriak sekencang kencangnya
dengan kata “terima, terima, terima”. Tiba-tiba aku ingat perasaan yang
seharusnya kutahan. Aku terbuai oleh perasaanku. Dan aku tak menyangka dia akan
menyatakannya sekarang. Aku sempat mengangkat wajahku untuk melihatnya. Tapi
aku tak sanggup. Akhirnya, kutundukkan lagi wajahku. ”Apa ada yang salah dengan
sikapku ke kamu?”tono pun bertanya. “tidak kok” ucapku singkat. Anton semakin tak karuan. Dadanya seakan mau
meledak. Kebahagiaan, dan kehawatiran bercampur baur dalam dadaku. “Aku merasa,
kalau aku suka dan sayang sama kamu”.
Air mata Anton pun jatuh. “kenapa
menangis ton?” ucapku dengan penasaran. “tidak apa-apa san. Setiap orang berhak
menyayangi. Tapi tidak denganku” ucapku dengan santai. “maksudmu?” Anton pun
bertanya lagi. “kau berhak menyayangiku karena kamu punya hak sendiri. Tapi aku
tak punya hak membalas rasa sayangmu itu, Ton. Karena aku tak punya hak
memilih” ucap Sanu. “kau bisa menceritakannya padaku kenapa kamu bilang tidak
punya hak untuk memilih?” tanya Anton. “yang pertama, karena aku tidak pantas
untukmu. Yang kedua, aku juga sudah punya pacar Ton, jawabku halus.
Kudengar desahannya mendengar
jawabanku. Aku tahu dia kecewa. Akupun kecewa. Tapi aku memang tidak boleh
membiarkan ini terjadi. “lalu, bagaimana perasaanmu padaku, san?”. “Ton, kamu
adalah laki-laki sempurna. Bohong kalau semua orang tidak menyukaimu. Biarlah
perasaanmu ini untukku engkau berikan ke orang lain. Meskipun kita tak bisa
bersatu. Kita tetap bisaberteman. Lagi pula, masih banyak perempuan yang lebih
segalanya dari aku. Dan kamu bisa mendapatkannya”. “aku tahu. Mudah-mudahan aku
bisa menyayangi orang lain…” ucap Anton yang hanya bisa diam. aku hanya bisa
tersenyum untuk menguatkannya Anto mendapatkan orang yang lebih baik dari aku.
Bagaimana tidak, aku telah menyia-nyiakan perasaan orang lain. Aku telah
mengecewakan orang yang aku anggap baik. Aku telah melukainya Walaupun begitu,
aku mengamini perkataan terakhirnya sebelum dia beranjak dari hadapanku. Ya,
semoga dia menemukan orang yang lebih baik dariku.
Created
by:
Yuhyi
Nurunnas Uni
2012311021
Komentar
Posting Komentar