Gendongan Karung
“Satu, dua, tiga........” suara lembut wanita paruh baya menghitung
tumpukan pakaian yang telah dilipatnya. Wanita itu bernama Sumi. Matanya sayu.
Sanggulan kecil selalu menghiasi kepalanya. Berkulit sawo matang dan berbadan
kurus kering, tampak keriput, persis orang yang kekurangan gizi. Tak ada kata
lelah untuk menata pakaian-pakaiannya hingga rapi. Jarum jam tepat pada angka
satu, tak terdengar suara orang berlalu lalang di balik ruangan sempit ini.
Seiring berjalannya jarum jam, cahaya semakin susah didapat. Hanya gelap yang
dapat menggambarkannya. Nyanyian serangga yang bersaut-sautan memberi kesan
ramai pada sunyinya tempat ini. Tapi tak nampak keinginan wanita paruh baya itu
untuk beristirahat dan tak satupun orang
yang membantunya.
Tak terasa jarum jam menunjuk angka empat, sedikit demi sedikit
nyanyian serangga digantikan seekor ayam yang setia membangunkan manusia setiap
pagi. Kemudian disusul dengan merdunya suara adzan subuh. Tanpa berpikir
panjang, wanita paruh baya itu
meninggalkan tumpukan pakaian di hadapannya dan melangkahkan kaki menuju
pancuran air. Namun tak semudah itu untuk mendapatkan setetes air. Tak ada
kamar mandi di ruangan sempit ini. Jangankan kamar mandi yang layak sebagaimana
wajarnya, satu pancuran airpun tak nampak di sudut-sudut ruangan sempit ini.
Karena itu, sudah menjadi rutinitas Sumi, wanita paruh bayah itu untuk
mengunjungi toilet umum yang ada di
ujung gang. Tak perduli siang atau malam, ramai atau sepi.
Setelah melakukan ibadah sholat subuh dan mempersiapkan segala
sesuatu yang diperlukannya, segera Sumi mengambil kunci di atas almari.
Terkejut ia melihat amplop rapi tak kusut sedikitpun jatuh dari tempat itu,
hanya saja warnanya yang menguning.
Surabaya,
20 Maret 1969
Sayang,
mungkin saat membaca surat ini kamu tak dapat kembali memegang ragaku. Aku
telah egois, tak berpamitan denganmu.`
Kamu
adalah belahan jiwaku. Separuh nafasku. Kamu adalah pena yang selalu
merangkai kata-kata indah di kertasku. Mungkin kertas ini akan kusut dan
menguning jika tak ada pena sepertimu.
Aku
selalu berusaha memberi lembaran-lembaran baru agar kau tak berhenti
merangkai kata-kata indah untukku. Namun,
aku hanyalah sebuah kertas. Layaknya manusia, tak berhak memperlama denyut
nadi selain Tuhan.
Aku
memang satu-satunya kertas tempatmu merangkai kata-kata indah ini. Ayah dan
ibu pun tak lagi menyediakan kertas untukmu. Kini, maafkan aku jika aku tak
lagi menyediakan kertas untuk mu.
Kamu
adalah pena termahal yang ada di dunia ini. Tak ada yang menandingi
kepribadian mu. Kamu wanita hebat. Aku percaya, kelak kau akan terus
merangkai kata-kata indah. Untuk siapapun nanti yang menemanimu...
Salam sayang,
![]()
Soepratmadja
|
Kenangan yang telah Sumi kubur 44 tahun lamanya kini sedikit demi
sedikit meramaikan pikirannya. “Aku juga senang telah diberi kesempatan Tuhan
untuk menjadi penamu, Mas”. Kembali ia mengucapkan kata itu setelah sekian lama
tak membacanya. Hingga saat ini Sumi tak mengira bahwa almarhum Soepratmadja
menyisakan tenaganya untuk menulis ini. Karena kanker darah yang dideritanya
sungguh membuat jiwanya lemah. Dan raganyapun begitu rapuh meskipun selalu
berpura-pura tegar di hadapan Sumi.
“Kenapa surat ini muncul kembali di hadapanku?, Bukannya aku telah
menyimpannya agar jiwaku tak lagi rapuh karenamu, Mas?”, batin Sumi sambil
mengembalikan kertas itu ke dalam amplop kuningnya dan meletakkan kembali surat
itu. Namun kali ini ia menyimpannya ke tempat yang lebih aman. Agar Sumi kuat berdiri
sendiri di dunia ini, dan tak ada sedikitpun yang membuatnya lemah. Seperti
yang diinginkan almarhum Soepratmadja.
Sekejab Sumi seakan terbangun dari tidurnya. Suasana di balik
ruangan ini semakin ramai. Menandakan hari semakin siang. Cepat ia meneliti
barang-barang yang akan dibawanya nanti.
Satu-satunya pintu yang ada di ruangan sempit ini segera dikuncinya
dari luar. Tak lupa Sumi menggendong karung yang telah ditatanya semalam. Sepertinya isi karung itu ada 15 kg. Namun
tidak hanya itu, tangan kanan dan kirinya tak dibiarkan melambai begitu saja.
Kedua tangannya juga memiliki tugas masing-masing yang beratnya tak kalah
dengan karung di bahunya.
Satu dua langkah terlampaui. Asap kendaraan menyambut kehadiran
Sumi sesaat setelah keluar dari perkampungan sempit yang padat dan ricuh itu.
Suara klakson bersaut-sautan menemani kotornya asap kendaraan yang memadati
jalan. Namun, itu tak menjadi penghalang Sumi untuk menuju tempatnya bekerja.
Tak jarang Sumi berjalan berkelok-kelok untuk mencari celah di padatnya jalan.
Tidak hanya kendaraan yang memadati tempat ini. Bermacam-macam pedagang telah
lebih dulu memadatinya. “Kapan jalan di Surabaya ini lancar tanpa kemacetan?”,
batin Sumi sambil mengusap keringat yang tak ada hentinya membasahi dahi.
“Sugeng enjing Mak
Sumi.......” sapa kawan Sumi yang juga bekerja di sekitar
itu. “Enjing nduk....sampun sarapan napa
dereng?” jawab Sumi akrab. Sumi memang terkenal ramah di lingkungan itu dan
menjadi panutan. Bahkan orang-orang di sekitarnya menganggap Sumi adalah orang
tua mereka.
Ketulusan hati dan keramahan Sumi yang menjadikannya sangat
dihormati dimanapaun ia berada. Sebenarnya tanpa Sumi meminta, orang-orang
tersebut rela melakukan apapun agar ia tak nampak lelah melakukan segala
aktivitasnya sendiri. Namun kegigihan Sumi untuk bertahan hidup mandirilah yang
membuatnya berani menolak tawaran dari tangan-tangan dermawan itu.
“Bruak..bruuaaaakk......” suara itu berasal dari persimpangan jalan
Gembong. Jika jarum jam menunjuk angka tujuh, tempat itu adalah tempat yang
paling disukai matahari untuk menampakkan sinarnya. Namun tak menjadi
penghalang Sumi untuk tetap menawarkan isi karung yang telah dijatuhkannya dari
tangan dan bahunya.
Segera Sumi mengeluarkan
pakaian-pakaian yang ada di dalam karung dan menatanya dengan rapi. Sumi hanya
bermodal terpal untuk tempatnya duduk dan meletakkan pakaian-pakaian yang telah
dipersiapkannya semalam.
“Ayoo..ayoo....Rp20.000,- tiga Rp20.000,- tiga”. Itulah kata-kata
yang selalu diucapkan Sumi, ketika wanita paruh baya itu telah duduk di
lapaknya sambil menunjukkan satu persatu barang dagangannya kepada orang yang
berlalu-lalang di depannya. Tak perduli banyaknya pedagang yang bersaing
mendapatkan pelanggan dengannya.
Pakaian yang dijual Sumi memang tak bagus, bahkan kusut. Ya inilah
Gembong, Sebuah sudut Kota Surabaya yang merupakan tempat dimana barang-barang
bekas diperjual belikan, pakaian yang dijual Sumi misalnya. Namun, tak
selamanya pedagang-pedagang di sini bekerja tanpa kendala. Para aparat sering
kali datang untuk membersihkan lokasi ini dari para pkl. Dengan sikap yang
kasar, semaunya sendiri, yang seakan tak berprikemanusiaan. “Kita sama-sama mencari sesuap nasi di sini,
apa yang membuat mereka bersikap demikian?, Karena tuntutan peran kah?”, batin
Sumi.
Tempat ini adalah salah satu dari sekian tempat yang menjadi icon Kota Suarabaya. Bahkan umur tempat
ini melebihi umur wanita paruh baya itu. Barang yang ditawarkan tak kalah
dengan barang-barang yang ada di pusat perbelanjaan. Hanya saja kualitasnya
yang sedikit menurun. Namun itu semua tak menjadi masalah bagi masyarakat Kota
Surabaya. Hampir semua kalangan pernah menginjakkan kakinya di pasar ini.
Selain itu, tempat ini juga tempat bersejarah bagi Sumi. Ini adalah
tanah kelahirannya. Saat ini usia Sumi genap 70 tahun. Sejak kecil hidup
sebagai anak tunggal, ditengah keluarga berada yang tak pernah ia risaukan.
Hanya saja kesepian kerap hadir dalam hidupnya. Sampai suatu saat dia merasa
begitu lengkap dengan hadirnya Soepratmadja. Sosoknya yang hangat dan penuh
kasih membuat Sumi begitu menyayanginya. Mereka bagaikan kertas dan pena yang
saling melengkapi. Tak pernah Sumi kehabisan tinta untuk melukiskan betapa
bahagia hidupnya dikala itu.
Tak disangka, kejadiaan naas menimpa orangtua Sumi di hari menjalang
pernikahannya dengan Soepratmadja. Kebahagiaan yang baru saja hadir kala itu,
hilang sekejab diliputi awan duka. Berdua dengan Soepratmajda, Sumi menata
hati. Mengikhlaskan kepergian orangtuanya dan tetap bersyukur karena kini ia
memiliki Soepratmadja.
Keluarga kecil yang ia bina
baru seumur jagung ketika kabar buruk kembali sampai ke telinga Sumi. Kanker
darah, penyakit ganas itu bersarang di tubuh Soepratmadja. Tak hanya menyerang
raga, tapi juga menggerogoti kebahagian rumah tangga mereka. Belum sempat
merasakan indahnya menjadi seorang ibu, Soepratmadja sudah lebih dulu
meninggalkan Sumi. Kini Sumi benar-benar sendiri. Tanpa Orang tua, tanpa
belahan jiwa.
Gembong menjadi saksi bisu hidup Sumi yang sebatang kara. Tak tahu
apa yang akan dilakukan Sumi untuk bertahan jika tak ada Pasar Gembong ini.
Keadaan yang memaksanya untuk ikut bersaing mengais rezeki di tempat ini.
Namun, kondisi seperti ini tak pernah ia keluhkan. Sumi juga tak pernah
bermimpi barang dagangannya habis terjuaal, walaupun apa yang ia dapatkan hanya
cukup untuk mengganjal perut.
Sumi tak pernah mengeluh dengan kondisinya, wanita paruh baya itu
juga tak pernah bermimpi pakaian yang dijualnya itu laku terjual, dia cukup
senang jika mendapatkan uang untuk mengisi perutnya saja. Wanita paruh baya itu
tampak begitu kesepian, namun tidak baginya. Bercengkerama dengan orang-orang
disekitarnya sudah membuat Sumi memiliki keluarga baru. Keluarga yang entah
sampai kapan menemaninya. Dan entah apakah keluarga ini juga ikut menghantarkan
Sumi ke tempat persinggahan terakhir nantinya atau tidak.
Nama : Dian Pramesti
dianpramestii@yahoo.com


Komentar
Posting Komentar